Pulang Kampung

Pulang Kampung Itu Seperti Beli Bensin, Mulai dari Nol Ya Kak!

Pulang kampung. Saya pulang kampung kawan, pulang yang benar-benar pulang. Jadi saya tidak akan kembali berdomisili di tanah perantauan . Rencana pulang sudah ada sejak awal tahun hingga meski ada pandemi covid-19 saya tetap paksakan terlaksana.

Dan sekarang saya sudah ada di kampung halaman, tepatnya di Desa Jangkar, Kecamatan Tanah Merah, Kabupaten Bangkalan Madura. Sebelumnya saya menjadi bu guru di Depok sejak 2015 sampai pertengahan 2020. Ah jadi kangen Depok, padahal belum genap tiga bulan saya meninggalkannya.

Kenapa saya memutuskan pulang kampung kawan? Yah banyak sih alasannya. Tapi ada dua alasan yang paling masuk akal. Pertama saya ingin dekat dengan ibu saya. Kedua saya ingin mengerjakan apa yang ingin saya geluti selama ini. Yaitu berkebun dan menulis. Doakan semoga tahun depan bisa menulis novel ya.

Emang di Depok tidak bisa berkebun dan menulis? Ya bisa saja, tapi kan saya tidak ada rencana panjang tinggal di Depok. Saya juga masih kos. Menulis, okelas bisa saya lakukan. Tapi berkebun? Lahan siapa yang mau saya tanami? Kalau di kampung kan ada pekarangan rumah yang bisa saya olah. Ada ladang yang juga bisa digarap.

Baiklah, ini adalah keputusan. Saya harus berani menanggung semua resikonya. Pulang ke kampung tentu saja tidak semudah yang dibayangkan. Mengambil keputusannya sih mudah, tapi menjalaninya berat kawan. Namun apapun yang terjadi saya harus bertanggungjawab pada pilihan yang sudah saya buat. Meski saya harus tertatih-tatih dan memulai semuanya dari awal. Macam beli bensin saja saya pikir. Mulai dari nol ya kak!

Ah saya merasa bodoh saat menulis bagian ini. Sangat nyata di depan mata bahwa saya tidak cerdas finansial sama sekali. Saya bekerja selama lima tahun di Depok tapi saya tidak punya tabungan sepeser pun. Gaji terakhir habis buat pindahan. Logam mulia pemberian orang tua (wali murid) terpaksa saya jual untuk membayar hutang. Laptop pun harus saya relakan berpindah tangan juga demi membayar hutang. Terakhir masih ada hutang dan cicilan motor yang masih tersisa sembilan kali lagi. Hiks…

Kenapa tidak cari kerja lagi saja? Duh bingung menjelaskannya. Hehehe, saya yakin tidak semua orang akan mengerti akan keputusan yang terkesan gila ini. Saya ingin fokus menulis dan berkebun. Kedua hal itu yang sangat ingin saya geluti sampai saya tua nanti kawan. Kalau sambil bekerja yang lain, saya tidak punya banyak energi untuk melakukan banyak hal. Jadi mohon dimengerti saja ya kawan. Toh saya yakin, menulis dan berkebun kalau diseriusin juga bisa menghasilkan uang.

Lagi-lagi ini adalah keputusan. Jadi sebisa mungkin semua saya jalani dengan senang hati. Nah ini beberapa kegiatan yang sudah saya lakukan setelah pulang kampung. Dilanjut ya bacanya, saya benar-benar mau bercerita. Hehehe.

Perempuan Mencangkul
Saya mulai berkebun di pekarangan. Sumber: Dokumentasi Pribadi

Berkebun di Pekarangan

Yap, saya sudah mulai berkebun di pekarangan kawan. Saya menanam tomat, terong, cabe rawit, cabe merah, kacang panjang dan buncis. Saya tidak sendirian kok, saya dibantu ibu dan ayah karena saya tidak bisa setiap hari di rumah. Selanjutnya saya sudah berencana untuk menanam bawang merah. Kata ibu saya ada lahan bisa dipakai. Terus kalau nanti musim hujan datang giliran saya yang akan membantu ibu menanang kacang tanah dan jagung di ladang kami.

Aktif Menulis Kembali di Blog dan Sosial Media

Setelah berkebun perlahan saya mulai aktif kembali menulis di blog dan sosia medial saya. Alhamdulillah sudah semingguan lebih mulai berjalan rutin kawan. Sekarang saya usahakan setiap hari posting satu tulisan di blog dan satu kabar di sosial media (facebook dan instagram). Bismillah perlahan saya akan mulai menyicil menulis novel. Idenya sudah bertebaran soalnya. Harus segera dituangkan sebelum semuanya ambyar.

Membantu Adik Mengurus Usaha Percetakan

Sebelum saya pulang saya sudah berjanji akan membantu adik mengurus usaha percetakannya. Katanya ia kewalahan jika mengurusnya sendirian. Jadi saya sudah membagi jadwal, tiga hari saya di rumah dan sisanya saya di Bangkalan. Usaha adik saya ada di Bangkalan. Di sini saya dan adik saya masih menumpang kawan. Numpang tidur dan makan ke kakak-kakak yang kebetulan sudah punya rumah di Bangkalan. Untung mereka pada baik kawan. Secara ikhlas mereka membiarkan kami tidur dan mengisi perut dengan gratis. Yah namanya juga saudara ya.

Baca Juga: Sang Security dari Sawangan Depok

Mengamati Rasi Bintang

Kakak saya yang pertama perempuan kawan, namanya Hikmah. Kalau tidur saya selalu menumpang di rumahnya. Kalau makan ya gantian, kadang di kakak saya yang satunya. Rumah Mbak Hikmah ada di perumahan baru, jadi belum semua bangunan selesai didirikan. Beberapa yang juga sudah jadi bahkan belum ditempati.

Nah, dari halaman rumah yang belum berpagar saya  dapat mengamati ribuan bintang di langit kawan. Terlihat sangat jelas dan cantik sekali. Kesempatan ini saya gunakan untuk menemukan beberapa rasi bintang. Crux dan scorpius adalah rasi bintang yang berhasil saya identifikasi polanya. Crux berbentuk layang-layang, scorpius berbentuk kalajengking.

Bersepeda Di Tengah Kegelapan

Saya sudah lama tidak bersepeda. Selama di Depok saya juga belum pernah bersepeda dan itu lima tahun lamanya. Akhirnya saya berkesempatan bersepeda. Adik saya lagi banyak kerjaan di tokonya, banyak undangan yang belum selesai dicetak. Saya memilih untuk pulang bersepeda duluan, tidak minta antar dengan motor seperti biasanya. Kebetulan ada sepeda milik kakak ke dua saya yang bisa saya pakai.

Pulanglah saya ke rumah Mbak Hikmah pada pukul sembilan malam. Meski harus melewati area pemakanan yang luas di daerah Martajasah, meski harus melewati sedikit persawahan, saya tetap mengayuh sepeda dengan enjoy. Ada ribuan bintang yang menemani perjalanan saya.

Itulah hal-hal yang sudah saya lakukan setelah pulang kampung kawan. Perjalanan masih jauh dan panjang. Semua saya coba jalani dengan senang hati. Meski setiap detiknya saya ingin menyerah dan berhenti. Terkadang bahkan meragu dan bertanya ‘sudah benarkah jalan yang telah kupilih?’.

Tapi saya selalu mencoba meyakinkan diri, saya adalah manusia dewasa. Jalan ini tidak saya pilih dengan gegabah. Telah ada ribuan tangis, ribuan kesedihan, dan ribuan kebingungan, sebelum akhirnya semua saya putuskan. Kini saya hanya perlu menjalaninya dengan penuh kepasrahan kepada Allah yang Maha Menentukan.

Bagikan

2 comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *