Sobat Ngopi, kalian pasti sudah baca tulisanku sebelumnya ya? Yang ngomongin apa itu urban farming bisa jadi ladang bisnis di lahan sempit? Kalau belum kalian boleh baca tulisan itu dulu, atau langsung gas baca tulisan yang ini juga nggak masalah sih.
Waktu masih kuliah, aku sering membayangkan kalau kegiatan bercocok tanam identik sama sawah yang luas, kebun yang membentang, atau paling nggak ya halaman rumah yang cukup besar.
Rasanya sulit membayangkan orang bisa menanam kebutuhan pangannya sendiri kalau hanya punya teras sempit atau bahkan sekadar balkon. Mana mungkin?
Tapi setelah lulus dan tinggal di lingkungan yang lahannya jauh lebih terbatas, pandanganku berubah. Ternyata, banyak orang yang berhasil menanam cabai, kangkung, tomat, bahkan selada tanpa harus punya kebun yang luas.
Mereka memanfaatkan sudut-sudut rumah yang sebelumnya kosong. Ada yang memanfaatkan pot, polybag, rak vertikal, bahkan botol bekas.
Dari situ, aku mulai menyadari bahwa bertani nggak selalu butuh lahan yang luas. Ada konsep yang disebut urban farming, dan menurutku ini bisa jadi satu solusi menarik bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan.
Apa Itu Urban Farming?
Secara sederhana, urban farming adalah kegiatan bercocok tanam atau membudidayakan tanaman di wilayah perkotaan dengan memanfaatkan ruang yang tersedia. Bisa di teras rumah, balkon apartemen, atau atap bangunan.
Sebagai seorang yang punya latar belakang pertanian, bagiku urban farming termasuk dalam bentuk adaptasi yang sangat menarik
Kayak, meskipun lahan produktif semakin terbatas, tapi kebutuhan pangan manusia akan tetap ada kan. Makanya, kita bisa pakai urban farming sebagai cara kreatif untuk menyediakannya.
Kenapa Urban Farming Semakin Populer?

Beberapa waktu lalu, aku sempat kabur dari rumah karena berantem sama adikku. Waktu itu, aku menumpang tinggal di kontrakan sahabatku dan mbaknya.
Sahabatku bukan orang dalam kondisi ekonomi berlebih. Makanya, aku nggak heran kalau meskipun halaman kontrakannya nggak luas, dia berusaha kreatif untuk menyediakan sayur, minimal untuk konsumsi pribadi.
Iya. Dia manfaatin tuh galon-galon yang nggak kepake sebagai tempat untuk menanam tomat. Terus botol-botol air mineral untuk menanam seledri. Dan masih banyak lagi.
Katanya, urban farming emang makin populer, Sobat Ngopi. Udah gitu bisa jadi peluang bisnis di lahan sempit pula. Tapi, tentu saja, hal ini bukan tanpa alasan dong ya.
1. Lahan Semakin Terbatas
Harga tanah di perkotaan nggak murah. Malah bisa kubilang mahalnya hampir mencekik finansial. Ibaratnya, kalau maksa beli lahan di perkotaan ya kudu siap dengan halaman yang minimalis atau malah nggak punya area terbuka sama sekali.
Tuh, kayak sahabatku. Kalau di rumahnya yang di desa, ada sawah atau kebun yang luas untuk memenuhi hasrat menanamnya. Termasuk urusan kebutuhan sehari-hari.
Begitu, memutuskan untuk tinggal di kota? Dia kayak sudah hampir gila saking bosan dan nggak bisa nanam-nanam kayak pas tinggal di desa.
Tapi, sahabatku ini bukan tipe orang yang mau menerima kondisi tanpa mencari jalan keluar untuk masalahnya. Sudah pasti, dia mencari cara biar tetap bisa berkebun tanpa butuh lahan yang luas.
2. Ingin Mengonsumsi Pangan yang Lebih Segar
Saat tinggal bersama sahabatku dan mbaknya, aku perhatikan mereka akan berbelanja sayur dan kebutuhan pangan lainnya seminggu sekali. Lalu menaruh semuanya di kulkas.
Beberapa bahan mungkin akan bertahan agak lama di kulkas. Tapi, pasti ada kepuasan tersendiri dong kalau bisa memetik cabai atau kangkung dari tanaman yang kita rawat sendiri.
Begitulah sahabatku. Tiap pagi, dia bisa memetik aneka sayur dan cabai dari halaman rumah kontrakannya sendiri. ‘Kan lumayan bisa menikmati bahan pangan yang segar. Iya nggak, Sobat Ngopi?
3. Membantu Menghemat Pengeluaran Rumah Tangga
Jangan berharap urban farming bisa langsung bikin tagihan belanja bulanan turun drastis ya! Emang belanja bulanan cuma sayur doang apa? Hehehe….
Tapi, minimal buat tanaman yang sering kita konsumsi setiap hari bisalah kita ambil dari hasil panennya urban farming. Sebut saja, cabai, daun bawang, sayuran daun, atau bahkan kemangi.
Paling nggak, kita nggak perlu sering beli beberapa keperluan dapur gitulah, Sob. Bukankah itu juga bisa dibilang sebagai usaha untuk menghemat pengeluaran rumah tangga ya?
4. Menjadi Aktivitas yang Menyenangkan
Ini nih manfaat yang paling kerasa sama sahabatku. Dia tuh memulai urban farming bukan karena pingin panen besar-besaran. Tapi, dia lebih ke menikmati prosesnya.
Apalagi ‘kan doi memang sudah memutuskan niche konten untuk media sosialnya. Yaitu aktivitas berkebun. Makanya, biar bisa sekalian bikin konten deh.
Intinya, dia akan bikin video atau foto setiap proses berkebunnya. Pas proses bikin media tanam, persemaian benih, sampai penanaman dan panen pun nggak luput dari kamera.
Dianya happy berkebun. Eh, dapat konten pula untuk update media sosialnya yang sudah lama terbengkalai. Kurang menyenangkan apa coba jadi sahabatku?
Jenis-Jenis Urban Farming yang Bisa Kalian Coba
Gimana? Setelah tahu alasan urban farming makin populer, adakah Sobat Ngopi yang tertarik untuk mencobanya?
Kalau iya, kalian kenali dulu beberapa metode urban farming yang cukup terkenal, sebagai berikut:
1. Menanam di Pot atau Polybag
Ini adalah metode yang paling mudah untuk pemula. Sahabatku juga menggunakan metode ini kok.
Kalian cuma perlu menyiapkan media tanam, wadah, dan bibit yang sesuai. Nggak perlu alat yang rumit ataupun biaya yang besar. Sahabatku malah pake botol mineral, galon bekas, dan tempat-tempat lainnya.
Nggak usah khawatir! Ada banyak sayuran dan tanaman bumbu dapur yang bisa tumbuh dengan baik pakai cara ini.
2. Vertical Garden
Bagi yang lahannya sangat-sangat terbatas, vertical garden bisa menjadi opsi yang menarik.
Alih-alih memanfaatkan ruang ke samping, kita bisa susun tanaman ke atas pakai rak atau dinding khusus. Cara ini bantu untuk menghemat ruang sekaligus bikin area rumah terlihat lebih hijau.
3. Hidroponik
Hidroponik merupakan metode budidaya tanpa menggunakan tanah. Urban farming yang ini rada butuh biaya ya, Sob.
Ya, gimana. Kita butuh nutrisi tanaman yang berupa larutan yang sudah punya formula secara khusus untuk unsur hara mereka.
Belum lagi, instalasinya yang meskipun paling sederhana tetap butuh alat dan bahan. Tapi, ya metode ini memang cukup populer sih. Soalnya, kondisinya kelihatan lebih rapi dan cocok untuk lingkungan perkotaan.
4. Aquaponik
Jenis urban farming berikutnya ada aquaponik. Metode ini adalah penggabungan antara budidaya ikan dan tanaman dalam satu sistem.
Dalam arti, kita nggak hanya dapat sayuran saja. Tapi, kita juga bisa dapat ikan untuk kebutuhan protein harian.
Pada metode ini, limbah dari ikan bermanfaat sebagai sumber nutrisi tanaman, sementara tanaman akan bantu menyaring air untuk ikan.
Menurutku, konsepnya sangat menarik. Soalnya, metode aquaponik memanfaatkan siklus alami yang saling menguntungkan. Kalau mau maksa bisa pakai istilah simbiosis mutualisme gitulah, Sob.
Tanaman yang Cocok untuk Urban Farming Pemula

Menurut pengalamanku, salah satu kesalahan yang sering dilakukan oleh pemula adalah memilih tanaman yang terlalu sulit untuk dirawat. Wajar kalau kemudian mereka gagal.
Padahal, bukannya lebih baik kalau sebagai pemulai mulainya dari tanaman yang peluang berhasilnya tinggi.
Terus Sobat Ngopi ada yang tanya, tanaman apa saja yang cocok dan punya tingkat keberhasilan tinggi bagi pemula yang ingin menggeluti urban farming?
1. Sayuran Daun
Tanaman di kategori ini emang paling mudah. Ada beberapa pilihan yang cukup ramah untuk pemula antara lain:
- Kangkung
- Bayam
- Pakcoy
- Selada
Menurutku, tanaman-tanaman ini relatif cepat tumbuh dan masa panennya nggak terlalu lama. Bisalah, kalau buat cadangan bahan pangan sehari-hari.
2. Tanaman Bumbu Dapur
Please, jangan bayangin yang rimpang-rimpangan, macam jahe, kunyit, kencur, dan kawan-kawannya ya, Sob! Kecuali, kalian pilih urban farming pake polybag masih mungkinlah.
Kalau ingin hasil yang benar-benar terasa manfaatnya sehari-hari, aku sih saran beberapa tanaman, sebagai berikut:
- Cabai
- Daun bawang
- Seledri
- Kemangi
Aku yakin, tanaman ini bakalan sering kalian gunakan untuk memasak sehingga hasil panennya nggak akan terbuang sia-sia.
3. Tanaman Sayuran Buah dalam Pot
Sahabatku ada nanam tomat dalam pot. Buahnya lebat banget, euy. Tomatnya yang kecil-kecil itu lho. Kalau sama aku biasanya kucemilin. Enak deh. Kecut-kecut gimana gitu. Hehehe….
Kalau kalian mau sedikit tantangan tambahan, beberapa tanaman berikut menurutku cukup menarik, antara lain:
- Tomat
- Terong
- Mentimun
Dengan perawatan yang tepat, aku yakin tanaman tersebut tetap bisa tumbuh meski kalian tanam dalam wadah.
Manfaat Urban Farming yang Jarang Kalian Sadari
Kalau kalian tinggal di rumah yang nggak punya halaman rumah yang luas, sekarang mah udah nggak masalah lagi. Kalian tetap bisa panen sayur hasil tanam sendiri.
Meski nggak banyak, tapi cukuplah untuk konsumsi pribadi. Bener nggak, Sobat Ngopi?
Biar kalian makin semangat untuk ikutan urban farming, biar kuceritakan sebagian manfaatnya yang sudah kutahu. Kalau nanti kalian nemu manfaat lain dari sumber yang belum kubaca, bisa tulis di kolom komentar ya, Sob!
1. Membantu Ketahanan Pangan Keluarga
Punya tanaman pangan di rumah memang nggak otomatis bikin kalian sepenuhnya mandiri.
Namun, paling nggak kalian punya sumber pangan tambahan yang bisa kalian manfaatkan saat butuh.
2. Mengurangi Sampah Organik

Biasanya kalau punya sisa sayuran atau bahan dapur yang organik gitu, pasti langsung kalian buang ‘kan? Nggak jarang malah ada yang sampai menimbulkan bau yang nggak sedap.
Padahal nih ya, sisa sayuran dan bahan dapur tertentu tu bisa lho kalian olah jadi kompos. Tuh kayak sahabatku.
Daripada sampah organiknya terbuang percuma, mending manfaatkan lagi saja untuk menyuburkan tanaman. Jadi lebih bermanfaat ‘kan sampah organiknya.
3. Bikin Lingkungan Lebih Hijau
Percaya atau nggak, dengan adanya tanaman bisa bikin suasana rumah terasa lebih segar lho, Sobat Ngopi.
Ya elah, Yun. Cuma berapa sih tanamannya? Dengan lahan yang sempit mah nggak mungkin nanam banyak ‘kan?
Kalian jangan menyepelekan jumlah tanaman yang sedikit ya, Sob. Masih mending ada tanamannya. Jadi, rumah kalian nggak kelihatan gersang-gersang banget. Dengan kata lain, nggak beton semua itu rumah.
4. Melatih Kesabaran dan Konsistens
Tanaman mengajarkan satu hal yang sering kita lupakan. Nggak semua hal bisa kalian peroleh secara instan.
Mie instan saja masih butuh proses masak untuk bisa kalian nikmati. Begitu juga tanaman.
Nggak mungkin kalian nanam benih sayuran sekarang, terus besok bisa kalian petik dan masak.
Ada proses yang harus kalian jalani sebelumnya sampai kemudian bisa menikmati hasil panen. Dan proses itu harus konsisten.
Ya kali, nyiram tanamannya cuma sekali terus bisa kalian abaikan sampai panen. Yang ada tanamannya kering dan mati, Sob. Hehehe….
Lahan Sempit Bukan Lagi Alasan untuk Nggak Nanam
Dulu aku juga termasuk orang yang berpikir kalau bertani harus kulakukan di lahan yang luas. Namun, makin banyak melihat praktik urban farming di sekitar, aku makin sadar bahwa keterbatasan ruang bukan lagi alasan untuk nggak mau nanam.
Kalau memang belum punya halaman besar, nggak lantas berarti impian punya kebun sendiri harus tertunda.
Mulai saja dari satu pot cabai, satu wadah kangkung, atau beberapa batang daun bawang di sudut rumah.
Siapa tahu, dari langkah kecil itu muncul kebiasaan baru yang bikin rumah lebih hijau, dapur sedikit lebih hemat, dan hubungan kita dengan tanaman jadi lebih dekat daripada sebelumnya.
Habis ini, kalian pingin baca artikel tentang apa, Sobat Ngopi? Kalau sesuai rencanaku sih aku bakalan nulis tentang urban farming untuk pemula. Sampai jumpa di artikel selanjutnya ya!






