urban farming jadi peluang bisnis

Lahan Sempit Bukan Masalah, Urban Farming Bisa Jadi Peluang Bisnis

Halo Sobat Ngopi! Kalian sudah tahu nggak sih? Urban farming bisa jadi peluang bisnis untuk lahan sempit lho. Yuk kita bahas!

Awal masuk kuliah dulu, aku pikir dunia pertanian selalu identik sama sawah luas dan kebun berhektar-hektar. Sama sekali nggak kepikiran kalau di kota yang lahannya sempit, kita juga bisa bertani.

Semakin ke sini, urban farming justru jadi salah satu konsep pertanian yang paling relevan. Ya, gimana dong.

Lahan untuk bertani makin tergerus pembangunan. Kota semakin padat dan lahan hijau semakin terbatas. Pingin tanam-tanam jelas semakin susah cari lahannya. Beton jelas nggak bisa buat menanam.

Tapi, tenang saja, Sobat Ngopi! Meski dengan lahan yang terbatas, kita tetap bisa kok menanam bahan pangan sendiri. Bukan cuma itu, kita juga bisa menjadikannya sebagai peluang bisnis.

Gimana tuh caranya?

Ada yang namanya urban farming. Kementerian Pertanian bilang, ini bisa jadi strategi pemanfaatan ruang atau lahan yang masih tersedia di perkotaan, termasuk pekarangan, rooftop, bahkan dinding rumah.

Menariknya lagi, urban farming sekarang bukan lagi sekadar tren iseng menanam tanaman di rumah. Banyak juga orang yang mulai melihatnya sebagai peluang usaha yang cukup menjanjikan.

Kenapa Urban Farming Makin Populer?

Menurut Sobat Ngopi nih ya, urban farming berkembang cuma karena orang suka tanaman tapi lahannya sempit?

Nggak ya. Ada alasan lain yang lebih relevan yaitu perubahan gaya hidup.

Sekarang ini, banyak orang mulai peduli soal makanan sehat, sayuran segar, dan produk yang minim pestisida. Dengan begitu, urban farming jadi solusi praktis untuk memenuhi kebutuhan itu.

Terus nih, Kementerian Pertanian juga menyebut kalau hasil pertanian perkotaan bisa membantu soal persediaan bahan pangan segar untuk keluarga sekaligus bisa jadi upaya penghematan pengeluaran rumah tangga gitu deh.

Selain itu, urban farming cocok banget untuk area perkotaan yang lahannya terbatas. 

Bahkan di beberapa referensi Kementan dijelaskan kalau kegiatan ini bisa kalian lakukan di balkon apartemen, sudut rumah, rooftop, hingga dinding bangunan. Caranya dengan menggunakan metode vertikultur maupun hidroponik.

Aku jadi ingat waktu pernah mencoba menanam pakcoy hidroponik sederhana di kos saat masih kuliah. Tempatnya kecil banget, cuma dekat jendela kamar.

Hal yang menarik, dari situ aku mulai mengerti kenapa urban farming banyak diminati. Soalnya, kita nggak harus punya lahan luas untuk mulai bertani.

Baca juga:  6 Ide Bisnis Modal Kecil Dengan Prospek Cerah yang Nggak Ada Matinya

Modal awalnya juga cukup fleksibel. Mau mulai dari polybag sederhana bisa atau instalasi hidroponik kecil pun tetap gas.

Emang Urban Farming Bisa Jadi Peluang Bisnis?

peluang bisnis dari urban farming

Nah, bagian ini yang menurutku paling menarik. Mencari penghasilan di bidang pertanian sekarang nggak harus mainan lumpur di sawah atau capek-capek mencangkul kebun yang luas.

Urban farming juga bisa jadi peluang bisnis yang nyata. Dia nggak lagi sekedar penyalur hobi.

Malah nih ya, dari banyak contoh yang bertebaran di media sosial dan beberapa komunitas pertanian, hasil dari urban farming sudah punya pasar sendiri.

Sudah gitu, permintaan terhadap sayuran segar dan tanaman herbal terus meningkat, khususnya di kota besar.

Malah Kementerian Pertanian pernah bilang kalau minat masyarakat terhadap urban farming meningkat pesat dan penjualan benih hortikultura sempat naik sampai lima kali lipat.

Dari situ aku sadar kalau peluang bisnis urban farming sebenarnya cukup luas. Beberapa produk yang sering punya nilai jual bagus, misalnya:

  • selada hidroponik,
  • microgreens,
  • pakcoy,
  • basil,
  • rosemary,
  • mint,
  • sampai bibit tanaman.

Yang menarik, usaha ini juga bisa Sobat Ngopi mulai dari lingkungan sekitar. Banyak lho orang memulainya dengan menjual hasil panen ke tetangga, komunitas sehat, atau lewat media sosial.

Tahu nggak apa yang lebih menarik? Bukan cuma hasil panennya yang bisa kalian jual. Tapi, ada juga yang menghasilkan uang dari:

  • starter kit hidroponik,
  • bibit tanaman,
  • jasa instalasi hidroponik,
  • kelas berkebun,
  • sampai konten edukasi urban farming.

Sebagai seorang yang punya background pendidikan di bidang pertanian, aku cukup senang melihat pertanian mulai berkembang ke arah yang lebih kreatif seperti ini.

Soalnya, dunia pertanian modern ternyata nggak melulu soal sawah besar, tapi juga soal inovasi memanfaatkan ruang kecil secara maksimal.

Jenis Urban Farming yang Cocok untuk Pemula

Menurutku, salah satu alasan urban farming gampang berkembang adalah karena metodenya cukup banyak dan bisa kalian sesuaikan dengan kondisi rumah.

Yuklah kita bahas jenis urban farming yang ramah untuk pemula, di antaranya:

1. Hidroponik Sederhana

Ini salah satu metode yang paling sering dibahas di kampus dulu. Hidroponik cocok untuk lahan kecil karena emang nggak butuh tanah dan tampilannya juga rapi.

Selain hemat tempat, tampilannya juga punya nilai jual. Sekarang ini, banyak orang tertarik membeli sayuran hidroponik karena terlihat lebih segar, bersih, dan modern.

Baca juga:  Kapan sih Waktu yang Tepat untuk Beli Reksadana?

2. Menanam dengan Polybag

Menurutku, salah satu alasan polybag cocok untuk urban farming adalah karena fleksibel banget. 

Ibarat kata nih ya, mau kalian taruh di teras rumah, halaman kecil, pinggir pagar, bahkan rooftop pun masih bisa. Selain itu, media tanam dalam polybag juga lebih mudah dikontrol ketimbang menanam langsung di tanah.

Ada beberapa tanaman yang mudah sekali kalau ditanam dengan metode ini, misalnya cabai, kangkung, tomat, dan sawi.

Yang aku suka dari metode polybag adalah modal awalnya nggak terlalu bikin takut. Nggak harus langsung beli instalasi mahal atau alat canggih. Mulai saja dengan beberapa polybag, bibit, dan media tanam sederhana.

3. Vertical Garden

vertical garden

Buat rumah yang benar-benar minim ruang, vertical garden bisa jadi solusi. Selain produktif, tampilannya juga bikin rumah terasa lebih hijau lho, Sobat Ngopi.

Jadi alih-alih melebar ke samping, tanaman disusun ke atas menggunakan rak bertingkat, pipa paralon, dinding tanaman, atau gantungan pot.

Apalagi tren rumah minimalis dan gaya hidup hijau masih cukup kuat di perkotaan. Jadi, peluang usaha dari vertical garden menurutku bukan cuma ada di sektor pertanian, tapi juga merambah ke dekorasi rumah dan lifestyle.

4. Budidaya Microgreens

Awal aku berkenalan dengan microgreens, dari sahabatku. Aku sempat heran, kok bisa tanaman yang baru tumbuh beberapa hari itu bisa begitu diminati.

Tapi, setelah lihat sendiri penggunaannya di kafe, salad bowl, sampai makanan sehat, aku mulai paham kalau microgreens memang punya pasar tersendiri.

Buat yang belum familiar, microgreens adalah tanaman sayur atau herbal yang dipanen saat masih muda, biasanya sekitar 7–14 hari setelah semai. Ukurannya kecil, tapi tampilannya menarik dan sering dipakai sebagai pelengkap makanan sehat.

Yang kusuka dari budidaya microgreens adalah prosesnya terasa cepat dan cocok untuk pemula yang mudah bosan menunggu waktu panen.

Tantangan yang Sering Dihadapi

Walaupun terlihat sederhana, urban farming tetap punya tantangan.

Aku sendiri pernah terlalu pede meninggalkan tanaman hidroponik beberapa hari karena merasa sistemnya aman. Ternyata nutrisi habis dan beberapa tanaman malah layu.

Dari situ aku sadar kalau pertanian sekecil apa pun tetap butuh konsistensi.

Selain itu, tantangan lainnya biasanya ada pada beberapa hal, sebagai berikut:

  • pencahayaan yang kurang,
  • cuaca terlalu panas,
  • hama,
  • dan pemasaran hasil panen.

Beberapa penelitian tentang urban agriculture juga menyebut bahwa kondisi lingkungan perkotaan memang punya tantangan tersendiri, mulai dari keterbatasan ruang sampai kualitas lingkungan yang berbeda dengan area pertanian biasa.

Baca juga:  Memajukan Bisnis dengan AI Bersama RED AI For Indonesia

Makanya menurutku penting banget mulai dari skala kecil dulu sambil belajar memahami pola tanam yang cocok.

Tips Memulai Urban Farming Sebagai Bisnis

Kalau ada teman yang bertanya harus mulai dari mana, biasanya aku bakal bilang untuk jangan langsung fokus pada untung besar. Mulai saja dari tanaman yang mudah panen, kayak:

  • kangkung,
  • selada,
  • pakcoy,
  • cabai,
  • atau tomat.

Setelahnya, baru dah belajar memahami kebutuhan pasar.

Selain itu, media sosial juga punya peran besar.

Tahu nggak sih? Sekarang tuh ada banyak akun urban farming yang berkembang karena rutin membagikan proses menanam, panen, sampai behind the scenes perawatan tanaman.

Dan satu hal penting yang sering dilupakan pemula yaitu menghitung biaya operasional sejak awal. Walaupun skalanya kecil, kita tetap perlu menghitung biaya, misalnya:

  • bibit,
  • nutrisi,
  • air,
  • wadah tanam,
  • listrik,
  • dan kemasan.

Soalnya, dari situ kita bisa tahu apakah urban farming yang kita jalankan benar-benar potensial jadi bisnis atau masih sekadar hobi.

Urban Farming Bisa Jadi Peluang Bisnis

Semakin lama belajar dunia pertanian, aku justru makin sadar kalau masa depan pertanian nggak selalu soal lahan yang luas.

Urban farming membuktikan bahwa ruang kecil pun tetap bisa produktif kalau kalian mau memanfaatkannya dengan kreatif.

Selain membuat rumah terasa lebih hijau dan segar, urban farming juga membuka peluang penghasilan tambahan bagi keluarga.

Dan menurutku, itu yang bikin urban farming jadi terasa sangat menarik.

Kadang peluang bisnis memang muncul dari hal sederhana yang awalnya cuma coba-coba di sudut kecil rumah sendiri.

Gimana, Sobat Ngopi? Tertarik untuk mencoba urban farming di rumah atau masih cari cara bisnis properti bagi pemula

Nggak masalah di mana pun kalian tinggal di kota. Entah itu rumah tapak yang minim pekarangan atau malah apartemen yang jelas-jelas nggak punya pekarangan. Urban farming bisa jadi peluang bisnis lho.

Sampai ketemu di artikel selanjutnya ya, Sobat Ngopi! Kalian pingin baca topik apa lagi nih?

Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *