Sang Security dari Sawangan

Sumber: Koleksi pribadi

Hari sudah senja. Langit di ujung timur sudah berwarna jingga. Suara anak-anak membaca sholawat terdengar keras melalui toa masjid. Lelaki setengah baya yang bernama Edi Susanto segera beranjak dari kantor kecilnya yang hanya berupa ruangan kecil. Ada tugas yang harus dilaksanakannya yaitu menghidupkan semua lampu ruang-ruang kelas di sekolah tempat ia bekerja sebagai security.

Bekerja sebagai security sudah dilakoninya sejak tahun 1991. Sejak umurnya masih sangat belia yakni 23 tahun. Hingga kini, saat umurnya sudah 50 tahun, ia masih setia dengan profesinya tersebut. Sebuah profesi yang telah memberinya banyak pengalaman hidup dan penghidupan.

“Setelah lulus SMEA saya pengen sekali bekerja waktu itu. Pengeeen sekali. Sekalinya dapat perkejaan sebagai tukang bangunan di daerah Pluit. Dapat sebulan saya berhenti. Lalu saya bekerja pada seorang bandar pisang di Pasar Rumput. Tugas saya ngangkat-ngangkatin pisang. Saya bekerja selama setahun juga di bandar pisang tersebut,” tuturnya saat memulai cerita tentang kisah hidupnya.

“Lalu saya pindah kerja ke toko kelontong sebagai kuli angkut beras. Sekali angkut satu karung goni beras beratnya seratus kilogram lebih,” lanjutnya sambil tertawa renyah.

“Saat bekerja di toko kelontong itu saya di tes sama pemiliknya. Memindahkan satu truk karung beras ke dalam rumahnya. Saya pindahin tuh semua karung beras berdua dengan teman saya. Setelah semua saya pindahin, lalu bos saya bilang ‘kamu lulus’,” tawa renyahnya kembali terdengar lebih keras. Matanya bersinar-sinar mengenang masa-masa mudanya. Saat tubuhnya masih tegap dan otot-otot tubuhnya masih kuat. Iapun terus bekerja dengan penuh semangat meski upah yang diterimanya hanya dua ribu rupiah saja dalam sehari.

Menurutnya, tahun 1991 merupakan tahun keberuntungannya. Tahun dimana sebuah kesempatan datang menghampiri. Melalui kesempatan tersebut rejeki dalam hidupnya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tidak sengaja seorang teman menawarinya untuk mendaftar sebagai security. Iapun mendaftar dan mulai mengikuti serangkaian tes fisik. Ia pun berhasil lolos dan diterima bekerja sebagai security di daerah Slipi Jakarta Barat.

“Gaji pertama saya sebagai security 150 ribu rupiah. Wuiiihhh seneng, aduuuh… senengnya. Waktu itu UMR saja masih 120 ribu rupiah. Alhamdulillah ada perubahan, ” tergambar jelas kebahagian masa-masa itu di matanya.

Namun dalam perjalanannya tidak semua berjalan dengan mulus. Kenaikan gaji setiap tahun yang diterima berkisar antara lima ribu sampai sepuluh ribu saja. Bahkan status sebagai karyawan tetap atau kontrak pun dirasa tidak jelas. Ia pun mulai berfikir, jika kondisinya tetap seperti itu maka hidupnya akan sulit mengalami kemajuan.

Pada tahun 1996, tepat tahun ke-enam ia bekerja di Slipi. Kesempatan kembali hadir kepada dirinya tanpa disengaja. Seorang loper koran kenalannya memberikan koran Pos Kota kepadanya. Dari koran tersebut iapun mendapatkan informasi lowongan kerja sebagai security di sebuah bank swasta. Ia pun tidak melewatkan kesempatan tersebut. Ia segera mengirimkan surat lamaran.

“Alhamdulillah ada panggilan. Tapi pas saya datang, luar biasa. Yang datang begitu banyak. Begiiituuu… banyak. Badannya gede-gede, keker-keker, rapi-rapi. Lah, sementara badan saya kecil begini. Tapi saya mah yakin, kalau Allah nempatin saya di sini maka siapapun tidak bakal bisa nyingkirin. Walaupun saya kecil tapi saya yakin Allah itu Maha Baik. Saya pengen merubah nasib. Begitu saja berfikirnya waktu itu.”

Ia pun kembali melewati serangkaian tes berupa Psikotes dan tes fisik. Berhasil melewati Psikotes ia mengkuti tes fisik yang sangat berat. Ia dan peserta lainnya diharuskan berlari memutari gedung Gramedia (saat ini gedung Berita Kota) sebanyak tujuh putaran. Meski tubuhnya lebih kecil dibandingkan yang lain namun ia berhasil berada di urutan pertama. Setelah tes fisik ia pun dipanggil wawancara. Dan dari sekian banyak pendaftar ia akhirnya terpilih sebagai salah satu dari lima orang yang lolos diterima bekerja. Rezekinya kembali mengalami peningkatan. Gaji yang diterima pun meningkat terus menerus. Mulai dari 235 ribu rupiah saat menjadi karyawan kontrak sampai 750 ribu rupiah setelah menjadi karyawan tetap.

Pada tahun 2002 bank tempat ia bekerja mengalami proses merger dengan lima bank swasta lainnya. Gaji yang diterimapun langsung naik drastis dari 750 ribu rupiah menjadi 2.200.000 rupiah. Namun sayang pada tahun 2010 ia terkena pensiun dini akibat adanya aturan outsourcing pada masa Presiden Megawati.

“Akhirnya saya masuk outsourcing sampai tahun 2017 kemarin dan masa kontrak tidak dilanjutkan.”

Kini Pak Edi-sapaan akrabnya- tak lagi muda, umurnya sudah menginjak lima puluh tahun. Ia tak lagi bisa bersaing dengan kader-kader security yang lebih muda. Tapi ia tak memilih menyerah. Kini ia bekerja sebagai secuirty di salah satu sekolah swasta di Kecamatan Sawangan Depok. Meski ia tak lagi bekerja di gedung yang tinggi, meski gaji yang diterimanya jauh lebih kecil dari gajinya dulu, namun ia tetap menjalankan tugasnya dengan baik. Sebab ia selalu berprinsip bahwa bekerja adalah ibadah.

“Fokuslah dalam bekerja. Hidup itu perjuangan dan semua yang kita kerjakan harus kita anggap ibadah. Sehingga apapun yang kita kerjakan, kita tidak merasa rugi. Jangan lupa bersabar agar kehidupan dan rejeki lebih berkah,” tutupnya saat mengakhiri cerita.

Pak Edi selesai melaksanakan tugasnya menghidupkan semua lampu kelas tepat saat Adzan magrib mulai berkumandang. Ia pun langsung bergegas menuju masjid. Tibalah waktu sholat, waktu dimana ia akan bermunajat kepada Sang Khalik. Satu-satunya tempat bagi dirinya selama ini menggantungkan kepasrahan dan keikhlasan dalam melakoni kehidupannya.

Bagikan
About Luluk Sobari 25 Articles
Hai! Saya Luluk Sobari. Seorang perempuan yang suka membaca, menulis, dan berkebun. Semoga tulisan-tulisan saya dalam blog ini dapat memberikan manfaat untuk kalian semua meski hanya sedikit.

1 Komentar

1 Trackback / Pingback

  1. Orang Depok Menulis 1.0 – Kopi Jagung

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*