Cerpen Kenangan

Antara Aku, Ibu, dan Yu Cendol

Cerpen Kenangan: Antara Aku, Ibu, dan Yu Cendol. Telingaku terus awas menunggu sebuah suara. Suara yang selalu terdengar di siang hari selepas pukul satu siang. Kurogoh kantong rokku untuk mengambil uang kertas lima ratus rupiah berwarna hijau muda. Uang kertas yang terlipat rapi itu kubuka perlahan. Dan gambar seekor orang utan yang sedang duduk di dahan pohon langsung menyambutku.

“Selamat tinggal orang utan,” gumamku pelan sambil menyeringai.

Setelah puas menatap si orang utan, aku kembali melipatnya dengan rapi dan mengembalikannya ke dalam kantong rokku. Kulirik jam dinding yang tergantung di atas pintu kamar ibu. Satu menit lagi. Aku pun mulai berhitung mundur mengikuti detak jarum jam. Tek, tek, tek. Dua puluh, dua puluh satu, dua puluh tiga… empat puluh, empat puluh satu, empat puluh dua… enam puluh.

 “Ceeeeendooooollll.”

Dan suara yang kutunggu terdengar tepat dihitungan ke enam puluh. Aku langsung melesat kelur dari rumah. Berlari secepat mungkin mengejar asal suara.

Yu Cendol beli cendolnya,” panggilku dengan keras.

Mendengar seseorang memanggil, Yu Cendol berhenti dan menepi ke sisi jalan. Ia menurunkan keranjang besar yang penuh dengan muatan dari atas kepalanya. Sebuah keranjang bambu yang mengecil di bagian bawahnya. Di keranjang itu Yu Cendol meletakkan mangkok, sendok, dan serbet. Keranjang itu tertutup papan kayu tipis yang setiap sisinya dibatasi dengan balok kayu kecil dan panjang. Di atasnya terdapat tiga toples plastik bening berisi cendol, santan, dan cairan gula merah yang kental.

“Beli berapa Duk?” tanya Yu Cendol.

“Satu Yu,” jawabku sambil duduk jongkok menyamai Yu Cendol.  

Yu Cendol mengangkat sedikit papan kayu yang menutupi keranjangnya. Ia mengambil mangkok kecil berwarna putih dan sendok. Diletakkannya mangkok itu di sisi papan kayu yang masih kosong. Tangannya kemudian membuka semua tutup toples secara bergantian. Setelah semua toples terbuka, ia kembali mengambil mangkok dan mengisinya dengan cendol, santan, dan gula merah secara berurutan.

Yu Cendol menyodorkan mangkok yang sudah terisi kepadaku. Aku menerimanya dengan senang hati. Suap demi suap kunikmati minuman kesukaanku itu. Diantara suapan-suapan itu, toples-toples Yu Cendol menarik perhatianku.

“Kok cendolnya masih banyak Yu?” tanyaku penasaran.

“Ya Duk, beberapa hari ini cendol ibu selalu bersisa. Biasanya siang begini sudah mau habis. Ini masih sisa setengah,” jawab Yu Cendol.

Aku merasa kasihan pada Yu Cendol. Pembelinya pasti berkurang banyak. Entah cerita apa yang beredar di antara pelanggan Yu Cendol. Ibuku sendiri sebenarnya sudah melarangku membeli cendol Yu Cendol. Padahal dulu ia selalu membelikanku cendol Yu Cendol tanpa kuminta.  Beberapa temanku juga menolak ajakanku untuk membeli cendol bersama-sama. Alasannya sama, ibu mereka melarang mereka membeli cendol pada Yu Cendol.

Mengingat aku sedang melanggar perintah ibu segera kuhabiskan cendol yang kubeli. Aku tidak boleh berlama-lama. Jika ketahuan ibu bisa marah besar. Setelah cendol habis segera aku menyerahkan uang kertas lima ratus rupiahku pada Yu Cendol.

“Semoga hari ini cendolnya laku semua ya Yu,” ucapku saat menerima uang kembalian dari Yu Cendol berupa tiga uang logam seratus rupiah.

“Terima kasih Duk,” jawab Yu Cendol sambil tersenyum.

Aku dan Yu Cendol pun berpisah. Aku kembali ke rumah dan Yu Cendol terus berjalan menjajakan cendolnya.

***

Rupanya Ibu sudah menungguku di halaman rumah. Tangannya menggenggam sapu lidi kecil. Sapu lidi  yang hanya berfungsi sebagai alat pukul bagi anak-anaknya yang tak menuruti kata-katanya.

“Dari mana kamu?” wajah Ibu merah padam penuh amarah.

“Beli cendol Bu,” jawabku dengan ketakutan.

Mendengar jawabanku hilang sudah pikirannya. Buk, buk, buk. Ibu memukuliku tanpa ampun. Ia sama sekali tidak peduli dengan jeritan kesakitan dan tangisanku. Semakin keras jeritan dan tangisanku, semakin keras pula pukulan Ibu.

“Masih berani beli cendol lagi, hah? Masih berani?” tanya Ibu setelah puas memukuliku.

Aku hanya menggeleng sambil terus menangis.   

“Cepat mandi!” Hardik Ibu.

Aku menurutinya. Segera menuju rumah mengambil handuk dan pakaian.

***

Aku keluar melewati pintu pagar lalu berputar ke belakang rumah. Aku bilang pada ibu kalau aku akan mencari kayu bakar bersama teman-teman. Tapi tanpa sepengetahuannya aku berjalan menuju perempatan jalan di dekat sekolahku. Jalan itu jauh dari rumah penduduk dan sepi di siang hari. Tempat yang cukup aman untuk menunggu Yu Cendol.

Aku duduk di bawah pohon nyamplung besar yang rindang sembari mengawasi keadaan sekitar. Aku begitu yakin jika ibu tidak akan mengetahui perbuatanku. Namun hatiku khawatir tiada henti.  Takut jika ibu tiba-tiba muncul. Tapi kekhawatiran dan ketakutan itu segera sirna tatkala sebuah lengkingan suara yang tinggi terdengar.

“Ceeeeendooooollll.”

Aku segera berdiri di sisi jalan menyambut Yu Cendol. Yu Cendol berhenti dan menyunggingkan senyum karena bertemu pelanggan. Yu Cendol menurunkan keranjangnya, mengambil mangkok kecil dan sendok, membuka tutup-tutup toples berisi cendol, santan, dan cairan gula merah yang kental.

“Cendolnya belum laku ya Yu, kok masih penuh?” Tanyaku

“Ia Duk, belum ada yang beli satu pun. Baru kamu Duk yang beli,” Ia menyodorkan mangkok berisi cendol padaku. Aku segera menerimanya.

“Sriiiiiiiii.”

Aku menoleh sebelum sempat menikmati cendol pada suapan pertama. Ibu berjalan menghampiriku dan Yu Cendol dengan amarah yang lebih besar dari sebelumnya. Aku ingin melarikan diri namun sudah terlambat. Ibu mengambil mangkok di tangaku dan melemparkannya ke tanah.

Klutaaak, klutuk, tuk, tuk, tuk, tuk. Mangkok itu menggelinding jauh. Ibu langsung menyeret lenganku dengan paksa. Aku meronta-ronta tidak mau. Ibu pun melancarkan serangan agar aku menurut. Ia mencubiti lenganku dengan keras.  

“Yu ada apa? Kasihan anaknya Yu, jangan dicubiti,” Yu Cendol mencoba mengingatkan ibu.

“Diam kamu! Tidak usah ikut campur. Aku sudah melarangnya membeli cendolmu, tapi ia tidak pernah menuruti perkataanku. Aku tidak mau dia sakit sampai harus dioperasi karena keracunan cendol seperti temannya kemarin.”

Yu Cendol seketika menitikkan air mata. “Ya Allah Yu, mungkin saja itu bukan karena cendolku Yu. Cendolku….”

“Ah sudah diam saja kamu,” potong ibu. “Sebaiknya kamu tidak usah berjualan di kampung ini lagi.”

 Yu cendol terdiam seketika mendengar perkataan ibu. Air matanya terus berjatuhan tanpa bisa ditahan. Terjawab sudah kenapa cendolnya tak lagi laku.

Aku menuntun Ratna sambil sesekali menatap wajahnya yang sumringah.

“Ratna mau cendolnya dua gelas ya Bu,” pintanya.

“Emang Ratna kuat menghabiskan dua gelas cendol?” tanyaku menunjukkan wajah tak percaya.

“Kuat dong Bu,” jawabnya meyakinkanku.

“Baiklah. Tapi nanti belinya satu gelas dulu. Kalau masih kurang baru boleh nambah lagi.”

“Asyiiiikkk,” Ratna melompat-lompat kecil dengan girang.

Dua puluh tahun sudah berlalu. Yu Cendol tidak pernah lagi datang ke kampungku. Orang-rang pun telah melupakannya, kecuali diriku. Aku masih sering merindukannya. Merindukan manis cendolnya, merindukan senyum lembutnya, merindukan lengkingan suaranya.

“Ceeeeendooooollll.”

Bagikan

One comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *