Penjual Tisu

Rizqi, Bocah Penjual Tisu

Penjual Tisu. Aku memilih duduk di sofa yang menempel di salah satu dinding kedai Sop Durian Margando. Salah satu kedai yang terkenal di depok lantaran sop duriannya yang nikmat. Juga makanan pertama yang saya nikmati saat pertama kali menginjak Tanah Depok sekitar tiga tahun yang lalu.

Sama seperti saat itu, kali ini pun aku memilih sop durian original. Hanya ditaburi dengan parutan keju dan dituangi air gula. Hmmm, sepertinya memang hanya air gula meski saya tidak terlalu yakin.

Biasanya aku hanya menumpang berdiri di depan kedai Sop Durian Margando untuk menunggu ojek online pesananku. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk masuk dan kembali mencicipi sop duriannya. Hitung-hitung sebagai salam perpisahan, sebab esok harinya aku akan mulai mengendarai motor sendiri. Jadi tak perlu lagi aku menumpang untuk menunggu ojek online.

Bertemu Rizqi, Sang Penjual Tisu

Sesosok anak kecil dengan tubuh gemuk dan warna kulit yang gelap akibat terlalu sering terpapar terik matahari menarik perhatianku. Pertama kali bertemu ia menawarkan tisunya kepadaku. Sampai saat aku duduk menikmati sop durian ia masih berprofesi sebagai penjual tisu. Kantong plastik besar berwarna merah yang disambung dengan seutas tali panjang sehingga menyerupai tas selempang masih menempel di badannya. Ku lirik tisu-tisunya yang tersusun berantakan di dalam kresek.

Anak kecil itu sedang menemani temannya mengamen di dalam kedai Sop Durian Margando. Selama temannya sibuk memetik senar okulele ia berkeliling menghampiri semua pengunjung sambil bertepuk-tepuk tangan sendiri. Beberapa ada yang menolak untuk memberikan uang, beberapa yang lain ada yang memberikan uang logam dan uang kertas pecahan dua ribu rupiah. Anak itu akhirnya sampai padaku, ia masih terus bertepuk-tepuk tangan menungguku memberinya uang. Ku serahkan uang lima ribu rupiah yang sudah kusiapkan sedari tadi. Ia langsung tersenyum lebar dan segera keluar bersama temannya setelah menerima uang dariku. Lalu aku kembali  menikmati sop durianku.

Mengobrol Bersama Rizqi

Aku sudah berdiri di depan Sop Durian Margando untuk memesan ojek online. Tapi setelah melihat anak kecil bertubuh gemuk penjual tisu aku mengurungkannya. Entah kenapa aku ingin berbincang barang sedikit saja dengannya. Aku segera mencari tempat yang bisa membuat kita duduk dengan nyaman. Syukurlan ada sebuah bangku yang terbuat dari bata yang cukup lebar di depan kedai Sop Durian Margando. Sepertinya memang sengaja dibuat agar pengunjung bisa duduk sebentar untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan. Atau siapa saja yang memerlukan tempat duduk.

Setelah duduk aku segera memanggil anak itu. Ia pun cepat menghampiriku.

“Berapa tisunya?” tanyaku langsung.

“Tiga, sembilan ribu kak,” jawabnya.

Segera kuserahkan uang pecahan sepuluh ribu setelah ia memberiku tiga bungkus tisu kecil. Tak ku buang kesempatan untuk memintanya duduk.

“Namanya siapa?” tanyaku lagi.

“Rizqi kak.”

Aku mengangguk-ngangguk kecil dan segera menemukan nama panggilan untuknya.

“Qiqi sekolah nggak?”

“Sekolah,” jawabnya dengan wajah polos.

Aku sedikit kaget sebenarnya, aku pikir ia tak sekolah.

“Dimana?”

“Di Sekolah Master kak.”

Aku mengernyitkan dahi. Namanya pakai Bahasa Inggris, apakah itu sekolah elite?

“Itu sekolah untuk anak jalanan kak. Coba deh kakak cek di youtube,” saran Qiqi setelah aku bertanya tentang apa itu Sekolah Master.

Aku yang sedari tadi memegang handphone segera membuka youtube dan mengetikkan kata “Sekolah Master”. Tidak lama video terkait Sekolah Master sudah berederet di layar handphoneku dan siap untuk ditonton.

Dari beberapa video yang saya tonton bersama Qiqi akhirnya aku mengerti jika kata MASTER adalah singkatan dari Masjid Terminal.

“Wah bagus juga sekolahnya ya Qi,” pujiku saat melihat kontainer-kontainer dilukis sedemikian rupa sehingga menjadi ruang kelas yang sangat apik.

“Itu temanku kak,” tunjuk Qiqi saat video menunjukkan seorang anak perempuan berambut panjang dengan senyum lebar.

“Tapi dia suka nangis,” lanjut Qiqi. Aku hanya menimpalinya dengan senyuman.

Satu video selesai aku langsung memilih video lain dengan tetap dibantu oleh Qiqi.

“Nah itu kakak kelas kak yang suka main biola di lampu merah,” Qiqi kembali menjelaskan.  Nampak segerombolan anak remaja laki-laki bermain biola di lampu merah. “Mereka kelas SMP,” lanjut Qiqi.

“Ohh…. Kalau Qiqi kelas berapa?”

“Kelas 4 kak.”

“Qiqi senang sekolah di Sekolah Master?”

“Senang kak. Kakak kelasku sudah ada yang jadi Angkatan kak.”

“Kalau Qiqi pengen jadi apa?”

“Pengen jadi Kapolres kak.”

“Wow… kenapa pengen jadi Kapolres?” tanyaku penasaran.

“Qiqi pengen nangkepin semua orang yang suka minum-minum,” jawab Qiqi dengan tegas.

“Wahhh…. bagus,” pujiku tak kalah bangganya. “Semoga cita-cita Qiqi tercapai ya,” ucapku mendoakannya. Qiqi tersenyum lebar.

Pantun Kenangan dari Rizqi

Kami terus mengobrol sambil terus menonton video tentang Sekolah Master di Youtube. Tapi  hari mulai sore, aku harus segera pulang. Kendaraan pun juga mulai memenuhi jalanan Margonda.  Sambil menunggu ojek online yang kupesan datang, Qiqi masih menemaniku.

“Ya udah kakak pulang dulu ya Qi,” pamitku.

‘‘Oke kak. Tapi sebelum kakak pulang Qiqi punya pantun,” Qiqi menyeringai.

“Oh ya, kakak mau denger dong,” pintaku.

“Beli pepaya beli tisu. Orang kaya beli tisu.”

Aku langsung tertawa mendengar pantun dari Qiqi.

“Beli ember beli tisu. Orang gembel jualan tisu.”

Aku kembali tertawa mendengar pantun kedua Qiqi. “Dapat dari mana Qi patunnya?” tanyaku.

“Buat sendirilah kak,” jawab Qiqi bangga.

Ah, Qiqi. Terima kasih sudah mau mengobrol denganku. Saya tahu kehidupan tidaklah mudah. Semasa kecil saya juga merasakan bagaimana hidup dalam perekonomian keluarga yang tak bagus. Tapi semoga kamu menemukan jalanmu untuk mencapai cita-citamu. Jangan pernah berhenti berjuang, sebab sampai saat ini pun kakak juga masih terus berjuang.

Bagikan

4 comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *