Cerita Rakyat Madura

Raksasa yang Selalu Lapar

Cerita Rakyat Madura: Raksasa yang Selalu Lapar. Desa Kolpo adalah sebuah desa yang sangat indah. Tanahnya subur dan sungai mengalir sepanjang tahun. Tanah yang subur dan ketersediaan air yang melimpah menjadikan tanaman para penduduk di ladang tumbuh dengan subur. Di desa ini para penduduknya hidup makmur dan penuh kerukunan. Hidup saling tolong-menolong dan saling menghormati.

Suatu pagi, ketenteraman desa Kolpo mulai terusik. Sapi-sapi milik penduduk mulai hilang satu persatu. Mereka saling bertanya siapakah yang telah mencuri sapi-sapi mereka?

“Apakah kalian menemukan jejak kaki yang sangat besar di dekat kandang sapi kalian?” pak Rasid yang bertubuh kurus membuka pembicaraan.

Beberapa penduduk desa Kolpo yang sedang berunding dengan Pak Rasid saling memandang lalu secara bersamaan mengangguk.

“Ia, aku melihat jejak itu di halaman rumahku,” Pak Satiman yang berambut ikal mengiakan.

“Ia aku juga melihatnya,” jawab yang lain setuju.

“Kalau begitu, berarti yang mencuri sapi-sapi kita adalah raksasa. Bukankah di dalam hutan ada raksasa yang bernama Mak Teleng?” Pak Rasid berucap dengan begitu yakin.

“Mungkin di dalam hutan sudah tidak tersedia makanan lagi untuknya,” Pak Satiman mencoba mengira-ngira apa yang menyebabkan raksasa itu mencuri sapi=sapi para penduduk.

“Wah ini berbahaya. Jika sapi-sapi kita sudah habis di makannya, bisa jadi dia akan memakan anak-anak kita nanti,” Pak Rasid mengusap-ngusap wajahnya penuh kekhawatiran.

“Kita harus segera menemui Kepala Desa dan melaporkan kejadian ini kepadanya,” lanjut Pak Rasid.

Pak Rasid dan Pak Satiman serta warga yang lain langsung menuju ke rumah Kepala Desa. Sesampainya di sana mereka disambut baik oleh Kepala Desa. Kepala Desa dan warga duduk melingkar di teras rumah Kepala Desa yang luas. Dengan seksama Kepala Desa mendengarkan pengaduan warganya.

“Baiklah. Saya mengerti keresahan warga sekalian. Saya pun demikian, juga sangat resah,” Kepala Desa menghela nafas panjang lalu diam sebentar.

Setelah meneguk kopi yang disajikan istrinya ia kemudian berucap, “Bapak-bapak sekalian, untuk saat ini yang bisa kita lakukan adalah mencegah Mak Teleng untuk mencuri sapi-sapi kita. Begini saja, kita buat kesepakatan dengan Mak Teleng agar dia berhenti mencuri sapi-sapi dan berjanji tidak akan memakan anak-anak kita.”

“Kesepakatan apa yang bisa kita buat bersama Mak Teleng, Kepala Desa?” tanya Pak Rasid.

“Apakah bapak-bapak masih menyimpan hasil panen musim kemarin?” Kepala Desa balik bertanya.

“Masih Kepala Desa,” jawab Pak Rasid mewakili warga yang lainnya.

“Berarti persediaan hasil panen untuk kalian makan masih ada?” tanya Kepala Desa lagi.

Pak Rasid dan warga yang lain mengangguk.

“Baiklah, kalau begitu kita serahkan saja semua tanaman kita yang sedang tumbuh di ladang kepada Mak Teleng!” saran pak Kepala Desa.

Pak Rasid dan warga yang lain saling berpandangan. Setelah saling berbisik Pak Rasid kemudian angkat bicara. “Jika itu dirasa baik kami setuju Kepala Desa.”

“Kalau begitu, Pak Rasid dan Pak Satiman, ikutlah dengan saya besok pagi untuk menemui Mak Teleng,” perintah Kepala Desa.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Kepala Desa, Pak Rasid, dan Pak Satiman berangkat menuju hutan untuk menemui Mak Teleng.

“Mak Teleng, apakah kamu yang sudah mencuri sapi-sapi milik warga?” tanya Kepala Desa setelah bertemu dengan Mak Teleng.

Mak Teleng yang baru bangun menguap berkali-kali. “Ia, kenapa? Habisnya aku lapar sekali. Di hutan ini sudah jarang sekali binatang. Juga tumbuh-tumbuhan di hutan ini belum ada yang berbuah.”

“Baiklah, kami mengerti. Kami akan memberimu makan,” Kepala Desa memulai perundingan.

“Benarkah? Kalian akan memberiku makan?” Mak Teleng langsung sumringah.


Kepala Desa mengangguk, mencoba meyakinkan mak teleng. “Ya, tapi ada syaratanya,” tutur Kepala Desa.

“Sebutkan saja apa syaratnya!” sambut Mak Teleng.

“Silahkan kau ambil semua tanaman di ladang kami yang berada di dekat hutan. Tapi kamu tidak boleh mencuri sapi-sapi warga lagi dan tidak akan pernah memakan anak-anak kecil.”

“Aku setuju,” mak Teleng tersenyum senang. ia langsung menyetujui kesepakatan itu.

Sejak saat itu tidak ada lagi sapi-sapi warga yang hilang. Warga desa Kolpo kembali hidup tenteram. Mereka sudah tenang dan tidak lagi khawatir.

Namun kesenangan ini tidak berlangsung lama. Warga kembali resah, sebab Mak Teleng makan begitu banyak dan begitu cepat. Belum ada sebulan, semua tanaman warga di ladang sudah hampir habis dimakannya.

Warga kembali menemui Kepala Desa. Mereka melaporkan apa yang terjadi.

“Kepala Desa, bagaimana ini? Jika tanaman kita di ladang sudah habis. Bagaimana kita akan memberi makan Mak Teleng lagi?” tanya Pak Rasid penuh kekhawatiran.

“Benar Kepala Desa. Jika kita memberikan hasil panen musim kemarin, kita nanti akan makan apa?” tanya Pak Satiman tidak kalah khawatirnya.

Kepala Desa kebingungan. Kali ini ia tidak memiliki jalan keluar lagi. Ia membuka peci hitamnya dan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Kami mohon pak Kepala Desa kembali membantu kami,” pinta Pak Rasyid.

Warga yang lain juga ikut mendesak Kepala Desa untuk segera mengambil tindakan.

“Tenang…. tenang…. saya harap bapak ibu sekalian tenang. Beri saya waktu sebentar untuk berfikir,” Kepala Desa menenangkan warganya yang mulai gaduh.

Kepala Desa kembali memakai peci hitamnya. Ia memijat-mijat keningnya. Ia memikirkan jalan keluar apa yang bisa diberikan kepada warganya. Tiba-tiba ia teringat kepada seseorang.

“Bapak-ibu sekalian. Sebaiknya kita menemui Kiai Rahman saja. Saya yakin beliau bisa membantu kita mencari jalan keluar,” dan warga menyetujui saran dari Kepala Desa.

Kiai Rahman adalah sesepuh desa Kolpo. Ia adalah seorang Kiai yang sangat disegani dan dihormati karena ilmu agama yang dimilikinya. Kiai Rahman mengajari anak-anak desa Kolpo mengaji, menjadi imam di masjid desa, juga menjadi tempat bertanya warga perihal urusan agama.

Saat Kepala Desa dan warga datang, Kiai Rahman sedang mengaji. Ia menutup Al-qur’annya dan segera menemui Kepala Desa dan Warga.

Di hadapan Kiai Rahman, Kepala Desa langsung menceritakan kejadian yang beberapa hari ini terjadi di Desa Kolpo. Tentang sapi-sapi warga yang hilang karena dicuri Mak Teleng. Tentang kesepakatan yang dibuat bersama Mak Teleng. Dan tentang kekhawatiran mereka karena Mak Teleng hampir menghabiskan tanaman warga.

“Besok kita temui Mak Teleng bersama-sama. Tolong bawakan sepiring nasi dilengkapi sayur dan ikan asin,” pinta Kiaia Rahman.

Kepala  Desa dan warga kebingungan. Tidak mengerti dengan maksud Kiai Rahman. Untuk apa sepiring nasi yang dilengkapi sayur dan ikan asin? Namun Kepala Desa dan Warga tidak berani bertanya lebih lanjut. Permintaan Kiai Rahman adalah perintah bagi mereka.

Dipimpin oleh Kiai Rahman, Kepala Desa bersama warga bersama-sama menemui Mak Teleng yang sedang berada di ladang salah satu warga. Ia sedang memakan tanaman warga yang masih tersisa. Ia nampak lahap dan makan dengan rakus. Kedua tangannya bergantian memasukkan tanaman ke dalam mulutnya dengan begitu cepat.

“Assalamualaikum Mak Teleng,” Kiai Rahman mengucapkan salam.

Mak Teleng tidak menjawab. Ia terus makan dengan lahap.

“Assalamualaikum Mak Teleng,” Kiai Rahman lebih mengeraskan suaranya.

Mak Teleng menoleh namun tetap tidak menjawab salam Kiai Rahman.

“Ada apa? Jangan menggangguku. Aku sedang makan,” jawab Mak Teleng.

“Aku tidak mengganggumu. Aku malah membawakan makanan untukmu,” tutur Kiai Rahman.

“Oh ya?” Mak Teleng melebarkan matanya tanda senang.

Kiai Rahman meminta Pak Rasid yang bertugas membawa sepiring nasi untuk maju ke depan.

Pak Rasid maju ke depan menghampiri Kiai Rahman. Ia menyerahkan sepiring nasi yang dibawanya. Lalu mundur kembali ke barisan warga yang berdiri di belakang Kiai Rahman.

“Makanlah nasi yang kami bawakan ini!” Kiai Rahman mengulurkan nasi di tangannya kepada Mak Teleng.

Mak teleng tertawa terbahak-bahak. “Kamu memintaku memakan nasi itu?”

Kiai Rahman mengangguk.

“Kamu pikir makanku sedikit? Lihatlah! tanaman seladang saja belum mampu membuatku kenyang. Tapi kau malah memintaku cuma memakan sepiring nasi?” cibir Mak Teleng.

“Kau makanlah dulu, saya pastikan kamu pasti kenyang meski hanya memakan sepiring nasi saja,” Kiai Rahman tidak menyerah dengan penolakan Mak Teleng.

“Baiklah, bagimana jika perkataanmu tidak terbukti?” tantang Mak Teleng.

“Kau boleh memakan semua sapi warga,” jawab Kiai Rahman memberikan jaminan.

Warga terkejut dengan jawaban Kiai Rahman. Mereka tidak setuju. Bagaimana jika perkataan Kiai Rahman tidak terbukti. Melihat warganya mulai riuh Kepala Desa segera menenangkan mereka. Ia meyakinkan warganya jika Kiai Rahman tidak mungkin bertindak ceroboh.

Mak Teleng sedikit membungkuk. Ia mengambil piring yang diulurkan oleh Kiai Rahman. Ia akan memakannya dalam satu kali lahapan saja.

“Tunggu Mak Teleng,” cegah Kiai Rahman saat Mak Teleng membuka mulutnya hendak memakan nasi pemberian Kiai Rahman.

“Kau melupakan sesuatu,” lanjut Kiai Rahman. “Bacalah basmalah dan berdoalah sebelum makan!”

Mak Teleng mengernyitkan dahinya.

“Ikutilah aku!” Kiaia Rahman lalu menuntun Mak Teleng membaca basamalah dan doa sebelum makan.

Mak Teleng langsung melahap sepiring nasi dari Kiaia Rahman. Ia mengunyahnya secara perlahan. Dan ia benar-benar merasakan sebuah keajaiban. Perutnya yang selalu merasa lapar tiba-tiba merasa kenyang.

“Wah, aku merasa kenyang,” Mak Teleng keheranan.

Kiai Rahman tersenyum. Dan warga pun bernafas lega. Betul kata Kepala Desa, Kiaia Rahman tidak mungkin berbuat ceroboh. Warga pun semakin mengakui kebijaksanaan dan kepintaran yang dimiliki oleh Kiai Rahman.

“Terima kasih sudah membantuku,” ucap Mak Teleng. Ia merasa sangat senang, sebab sebenarnya ia juga sangat tersiksa dengan perutnya yang selalu lapar.

Mak Teleng pun kembali ke dalam hutan. Ia tidak perlu lagi khawatir akan kelaparan dan kehabisan makanan. Sebab dengan membaca basmalah dan berdoa sebelum makan, makan satu buah pisang saja sudah membuatnya merasa kenyang.

Baca juga: Saregenten dan Mak Butah

Bagikan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *