Berkebun di rumah

Keuntungan Berkebun di Rumah, Memanfaatkan Barang Bekas Sayur Sehat Pun Kudapat

keuntungan Berkebun di Rumah – Hidup di desa juga tak bisa lepas dari namanya sampah plastik. Apalagi tetangga di desa saya murah hati sekali kalau soal makanan. Setiap bulan ada saja orang hajatan.

Maka besek pun berdatangan. Besek ini menjadi salah satu sumber sampah utama di rumah. Wadah-wadah plastik pun bertumpukan tak terpakai.

Saya akhirnya putar otak dong. Dari pada tuh wadah-wadah plastik bertumpuk tak karuan. Sebaiknya saya gunakan untuk mulai praktik berkebun di rumah saja.

Berjodoh dengan Tanaman

Saya dan tanaman itu seperti jodoh. Sejak kecil saya selalu membantu Ibu berjualan buah hasil panen sendiri ke pasar. Ketika kuliah saya juga mengambil jurusan pertanian, agroekoteknologi.

Setelah bekerja, meski menjadi guru, tetap saja jatuhnya berkecimpung dengan tanaman juga. Saya pernah menjadi guru kebun di salah satu sekolah alam di Depok.

Sekarang saya sudah menjadi full time bloger. Tetap saja akhirnya saya memutuskan untuk lebih banyak membahas tentang tanaman dan budidaya.

Ke depan pun, saya berencana untuk menjalani hidup dengan dua aktifitas. Menulis dan berkebun.

Sulitnya Mendapatkan Sayuran Segar di Madura

Demi meniti karir baru di bidang kepenulisan. Sementara waktu saya memilih pulang kampung dulu. Ya dengan segala pertimbangan. Di kampung halaman lah saya memutuskan untuk memulai semuanya dari nol.

Saya tinggal di Dusun Pao Desa Jangkar. Desa ini masuk Kecamatan Tanah Merah Kabupaten Bangkalan. Kabupaten paling barat di Pulau Madura.

Seingat saya, orang Madura itu tak terlalu suka sayuran. Sewaktu kecil, paling banter saya makan sayur bayam, sop, daun ubi, daun singkong dan kacang tolo. Di luar itu sangat jarang.

Tanah pertanian di Madura juga tak bisa menghasilkan aneka sayuran. Maklum, sawahnya sawah tadah hujan. Artinya pengairannya hanya bergantung pada air hujan.

Saat musim kemarau datang, ya orang-orang di kampung saya libur dulu bertaninya. Nah kondisi ini tak cocok untuk tempat tumbuh sayuran.

Apakah di pasar tidak ada orang jualan sayur? Saat ini sudah. Sayuran yang tersedia sudah lebih beragam. Sayangnya biasanya tidak segar, banyak yang lalu.  

Sementara saya suka banget sama yang namanya kangkung dan bayam. Kedua sayur ini cepat sekali layu kan?

Berkebun di Rumah Memanfaatkan Barang Bekas

Kalau lagi musim kacang tolo, saya bisa sedikit tenang. Sebab saya suka juga sama sayur ini. Tapi kalau tidak musim, agak kesulitan juga mendapatkan sayur segar.

Daun singkong sih banyak. Hampir tersedia di semua musim. Namun saya tak terlalu suka daun singkong. Makanya saya memilih untuk berkebun di rumah saja. Agar bisa panen sayur segar kesukaan.

Tujuan berkebun di rumah ini bukan untuk memenuhi kebutuhan akan sayuran saja loh. Saya juga meniatkannya untuk praktik. Ada sebuah mimpi yang ingin saya wujudkan. Saya ingin membuka kelas berkebun di rumah.

Praktik yang sudah saya lakukan yakni berkebun di rumah dengan memanfaatkan barang bekas. Soalnya saya ingin mengusung konsep menanam itu mudah dan murah.

Ada tiga jenis sayuran yang saya tanam untuk saat ini. Kangkung, bayam, dan pokcoy (sawi daging). Sistem yang saya pakai adalah berkebun dengan media tanah dan media air atau hidroponik. Wadah untuk menampung media tanam adalah wadah-wadah plastik yang tak terpakai.

Seneng sih, soalnya saya berhasil panen beberapa kali. Tapi ya gagalnya tetap ada. Beberapa tanaman saya mati lantaran salah dalam pemupukan.

Saya juga membibitkan tomat, cabe, dan pepaya menggunakan gelas plastik bekas. Kalau tanaman ini niatnya mau saya tanam di ladang. Kebetulan, tanaman ini lebih mampu beradaptasi dengan lahan kering dibanding sayuran daun.

Keuntungan berkebun di rumah
Panen kangkung tahap I

Keuntungan Berkebun di Rumah

Seorang saudara bertanya ketika melihat saya sedang berkebun,. Ngapain nanam kangkung? Beli ja di pasar 2 ribu juga dapat.

Saya tak mau berdebat. Soalnya saudara saya umurnya lebih tua dari saya. Jadi ya saya abaikan saja.

Namun jauh di lubuk hati. Saya punya pembelaan. Jelas saya ingin sayuran yang lebih segar. Saya sudah membuktikan sendiri. Sayuran segar itu punya cita rasa yang lebih baik.

Kangkung misalnya, jika baru dipanen terus langsung dimasak. Sungguh tekstur crunchy­-nya masih ada. Bayam pun rasanya juga ada sedikit manisnya. Terasa segar di lidah.

Terus kalau pokcoy, Saya jadi bisa panen lebih awal. Bagi saya pokcoy atau pun sawi agak sedikit pahit kalau di panen saat sudah tua.

Sayuran dari hasil menanam sendiri juga bisa saya pastikan lebih sehat. Sebab saya tak menggunakan pestisida sama sekali. So, saya tak perlu khawatir akan mengonsumsi residu pestisida yang tak baik bagi tubuh.  

Menanam sayur di rumah juga bisa menghemat uang loh. Kangkung, bayam, dan pokcoy itu bisa di panen berkali-kali. Cara panenya jangan dicabut tapi dipotong bagian batangnya. Pasti nanti akan tumbuh tunas baru dari batang yang sudah terpotong tersebut.

Mimpi Membuka Kelas Berkebun

Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya. Kegiatan berkebun saya niatkan sebagai kegiatan praktik. Saya punya keinginan untuk membuka kelas berkebun suatu hari nanti.

Sebelum mengajari orang, saya ingin memperbanyak pengalaman dulu. Meski saya seorang sarjana pertanian. Tapi saya merasa masih perlu memperbanyak praktik.

Lalu kenapa saya ingin membuka kelas berkebun? Pertama saya ingin menyebarkan semangat berkebun di rumah serta benefitnya. Saya juga berkeyakinan, orang yang suka berkebun lambat laun akan peduli juga dengan pengelolaan sampah rumah tangga.  

Karena itu, saat ini saya juga mulai praktik mengomposkan sampah organik dari dapur. Selain mengajarkancara berkebun di rumah saya juga akan mengajarkan cara mengolah sampah dapur menjadi kompos. Kompos ini bisa menjadi media bertanam sayuran organik nantinya.

Praktik mengomposkan sampah organik dapur

Pengelolaan Sampah Organik  

Lebih dari 50%, timbulan sampah di Indonesia itu berupa sampah organik. Sayangnya banyak yang tak mengolahnya dengan baik. Akhirnya sampah organik berakhir di TPA dan menumpuk begitu saja.

Sampah-sampah organik ini kalau tertimbun lama di TPA bisa menimbulkan banyak masalah. Pencemaran tanah karena air lindi. Longsor dan ledakan sampah akibat gas metana.

Seperti yang pernah terjadi di tahun 2005 silam. Gunungan sampah di TPA Leuwigajah setinggi 60 cm dengan luas 200 m tiba-tiba mengalami longsor dan meledak. Menelan korban sebanyak 157 jiwa.

Padahal sampah organik adalah sampah yang paling mudah daur ulangnya. Sampah organik bisa diolah menjadi kompos. Saat ini pun sudah tersedia teknologi sederhana pengolahan kompos skala rumah tangga.

Bayangkan, jika sampah organik ini terkelola dengan baik sejak dari rumbernya. Maka 50% permasalahan sampah sebenarnya bisa tertasi dengan baik.

Upaya Kecil Bagi Lingkungan dan Kesehatan

Kali ini biarlah saya memulai dengan mimpi. Mimpi membuka kelas berkebun yang akan mengajari orang menanam sayuran dan mengolah sampah organik di rumah.

Demi mewujudkan mimpi tersebut. Kini saya sedang melakukan banyak praktik. Agar saya bisa menjadi guru yang baik dan mengantongi banyak pengalaman.

Harapan saya, semoga mimpi ini bisa terwujud. Agar makin banyak orang yang bisa merasakan benefit berkebun di rumah. Lalu perlahan juga mulai sadar akan pentingnya mengolah sampah organik dari rumah.

Bagikan

2 comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *