Ada satu kebiasaan yang belakangan ini cukup sering saya lakukan: Zoom.
Bukan karena pekerjaan kantor atau meeting bisnis, tetapi karena saya cukup aktif mengikuti kegiatan komunitas kesehatan mental. Ada diskusi, sharing, workshop, sampai pertemuan rutin yang semuanya dilakukan secara daring.
Awalnya saya merasa biasa saja. Namanya juga cuma duduk di depan laptop. Paling satu atau dua jam. Setelah selesai, tinggal menutup laptop dan kembali melakukan aktivitas lain.
Ternyata, mata saya punya cerita yang berbeda. Beberapa kali setelah mengikuti Zoom cukup lama, mata terasa perih. Kadang seperti panas. Rasanya juga berat dan tidak nyaman. Setelah itu, mata menjadi cepat lelah.
Tapi, seperti kebanyakan orang yang merasa dirinya masih baik-baik saja, saya malah mengabaikannya. “Ah, paling karena kelamaan lihat layar.”
Besoknya kalau ada kegiatan Zoom lagi, saya lakukan lagi. Kalau mata sudah terasa tidak nyaman, saya tahan. Bahkan kadang tetap memaksakan diri menyelesaikan kegiatan sampai selesai.
Sampai kemudian saya berpikir, jangan-jangan selama ini saya sedang menganggap remeh sesuatu yang sebenarnya perlu diperhatikan.
Mata SePeLe, Jangan Disepelein
Kalau diperhatikan, keluhan yang saya alami ternyata cukup dekat dengan gejala mata kering.
Mata kering bukan sekadar kondisi ketika mata kekurangan air. Secara sederhana, mata kering terjadi ketika air mata tidak mampu memberikan pelumasan yang cukup pada permukaan mata. Akibatnya, mata bisa terasa tidak nyaman.
Gejalanya pun tidak selalu berupa mata yang benar-benar terasa kering. Mata kering dapat membuat mata terasa sepet, perih, panas, seperti mengganjal, mudah lelah, bahkan pada kondisi tertentu penglihatan bisa terasa buram.
Nah, beberapa di antaranya persis seperti yang saya rasakan setelah terlalu lama berada di depan layar.
Saya memang tidak bisa memastikan bahwa mata saya pasti mengalami mata kering hanya berdasarkan gejala tersebut. Namun, setidaknya saya jadi sadar bahwa rasa perih, panas, dan cepat lelah setelah berlama-lama menatap layar bukan sesuatu yang seharusnya terus-menerus saya abaikan.
Apalagi ketika aktivitas seperti Zoom membuat kita terlalu fokus memperhatikan layar. Saat berkonsentrasi, kita bisa menjadi lebih jarang berkedip. Padahal, berkedip membantu menjaga kelembapan permukaan mata.
Jadi, mungkin masalahnya bukan karena saya terlalu sering Zoom semata. Bisa jadi saya juga kurang memberi kesempatan kepada mata untuk beristirahat.
Dan dari sini saya mulai memahami kenapa #MataSePeLeJanganSepelein. Keluhan yang terasa kecil tetap perlu diperhatikan, terutama kalau muncul berulang kali.
Kenapa Mata Bisa Terasa Tidak Nyaman Setelah Lama Menatap Layar?
Ada satu kebiasaan yang sering tidak kita sadari ketika menatap layar: kita menjadi lebih jarang berkedip.
Saat berkonsentrasi mengikuti pembicaraan di Zoom, membaca materi, atau melihat presentasi, perhatian kita sepenuhnya tertuju pada layar. Tanpa sadar, frekuensi berkedip bisa berkurang.
Padahal, berkedip membantu menyebarkan air mata ke permukaan mata. Kalau dilakukan berjam-jam, ditambah kondisi ruangan ber-AC atau udara yang kering, mata bisa semakin mudah terasa tidak nyaman.
Karena itu, ketika mata mulai terasa perih, panas, berat, atau cepat lelah, saya sekarang tidak mau buru-buru menganggapnya hanya sebagai rasa capek biasa.
Saya mulai belajar memberikan jeda.
Saya Harus Belajar Memberi Mata Waktu Istirahat

Setelah menyadari hal tersebut, saya mulai mencoba mengubah kebiasaan. Kalau sedang mengikuti Zoom, saya berusaha tidak terus-menerus menatap layar tanpa jeda. Ketika ada kesempatan, saya mengalihkan pandangan sejenak dari laptop.
Saya juga mengingatkan diri sendiri untuk lebih sering berkedip. Kalau kegiatan Zoom sudah selesai, saya berusaha tidak langsung berpindah ke aktivitas lain yang juga mengharuskan mata menatap layar.
Sederhana, memang. Tetapi ternyata memberi jeda kepada mata juga bagian dari merawat diri.
Kalau mata sudah mengalami gejala mata kering, penggunaan tetes mata yang memang ditujukan untuk membantu mengatasi mata kering juga bisa menjadi salah satu pilihan.
Salah satunya adalah INSTO DRY EYES.
Insto Dry Eyes merupakan tetes mata yang digunakan untuk membantu mengatasi gejala mata kering. Produk ini mengandung Hydroxypropyl Methylcellulose yang berfungsi sebagai pelumas seperti air mata, sehingga membantu mengatasi kekeringan pada mata dan meringankan iritasi akibat kekurangan produksi air mata.
Buat saya, mengenal #InstoDryEyes bukan berarti kemudian saya bisa kembali menatap layar tanpa batas. Justru sebaliknya.
Saya jadi semakin sadar bahwa mata perlu diperhatikan. Tetes mata dapat membantu ketika gejala muncul, tetapi kebiasaan sehari-hari juga perlu diperbaiki.
Percuma saja menggunakan tetes mata kalau setelah itu saya kembali Zoom berjam-jam tanpa jeda.
Tetap Aktif di Komunitas, Tapi Mata Jangan Dikorbankan
Saya tidak ingin berhenti mengikuti kegiatan komunitas hanya karena harus sering berhadapan dengan layar.
Banyak hal baik yang saya dapatkan dari komunitas kesehatan mental. Ada ruang untuk belajar, berbagi pengalaman, mendengarkan cerita orang lain, bahkan sekadar ngobrol dan merasa bahwa kita tidak sendirian.
Jadi, yang perlu saya ubah bukan aktivitasnya, tapi kebiasaannya. Saya perlu belajar membagi waktu antara aktif berkegiatan dan memberi tubuh kesempatan untuk beristirahat. Termasuk mata.
Sebab saya ingin tetap bisa mengikuti diskusi, menulis, bekerja di depan laptop, dan melakukan berbagai aktivitas lainnya tanpa harus terus-menerus terganggu oleh mata yang terasa tidak nyaman.
Dan tentu saja saya ingin #BebasMataKering bukan dengan cara memaksa mata terus bekerja, tetapi dengan lebih peduli pada kebutuhannya.
Kalau keluhan mata terus berulang, semakin berat, atau sampai mengganggu penglihatan, tentu sebaiknya tidak berhenti pada perawatan sendiri. Memeriksakan kondisi mata ke dokter tetap menjadi pilihan yang tepat untuk mengetahui penyebabnya.
Jangan Menunggu Mata Benar-Benar Bermasalah
Lucunya, selama ini saya cukup perhatian pada banyak hal dalam kehidupan sehari-hari. Kalau tubuh terasa capek, saya tahu kapan harus berhenti.
Kalau pikiran mulai penuh, saya tahu saya membutuhkan waktu untuk beristirahat. Tetapi ketika mata terasa perih, panas, dan berat setelah berjam-jam mengikuti Zoom, saya malah bilang, “Ah, nanti juga hilang.”
Padahal mata juga sedang bekerja. Dan mungkin, keluhan-keluhan kecil itulah cara mata mengatakan bahwa ia sudah mulai lelah.
Aktif di komunitas kesehatan mental seharusnya membuat saya semakin paham bahwa merawat diri bukan hanya soal kesehatan pikiran. Merawat diri juga berarti mau mendengarkan sinyal-sinyal kecil yang diberikan tubuh. Termasuk mata.
Sekarang, kalau mata mulai terasa tidak nyaman setelah terlalu lama di depan layar, saya berusaha tidak lagi memaksakannya. Saya beri jeda, lebih banyak berkedip, dan bila diperlukan menggunakan tetes mata yang sesuai untuk membantu meringankan gejala.
Sebab mata yang sepet, perih, panas, dan lelah mungkin memang terlihat sederhana. Tetapi setelah mengalaminya sendiri, saya tidak ingin lagi menganggapnya sebagai gangguan kecil yang bisa terus ditahan.
Karena #MataSePeLeJanganSepelein.
Mata juga punya batas. Dan mungkin, salah satu bentuk sederhana dari merawat diri adalah mau berhenti sejenak ketika mata sudah meminta istirahat.






